Ayo Bergerak !!!!!

April 24, 2006

BERGERAK
Oleh: Rhenald Kasali

“Sebagian besar orang yang melihat belum tentu bergerak, dan yang bergerak belum tentu menyelesaikan (perubahan).”

Kalimat ini mungkin sudah pernah Anda baca dalam buku baru saya, “Change”.
Minggu lalu, dalam sebuah seminar yang diselenggarakan Indosat, iseng-iseng
saya mengeluarkan dua lembaran Rp 50.000. Di tengah-tengah ratusan orang yang tengah menyimak isi buku, saya tawarkan uang itu.
“Silahkan, siapa yang mau boleh ambil,” ujar saya. Saya menunduk ke bawah menghindari tatapan ke muka audiens sambil menjulurkan uang Rp 100.000.

Seperti yang saya duga, hampir semua audiens hanya diam terkesima. Saya ulangi kalimat saya beberapa kali dengan mimik muka yang lebih serius.
Beberapa orang tampak tersenyum, ada yang mulai menarik badannya dari sandaran kursi, yang lain lagi menendang kaki temannya. Seorang ibu menyuruh temannya maju, tetapi mereka semua tak bergerak. Belakangan, dua orang pria maju ke depan sambil celingak-celinguk. Orang yang maju dari sisi sebelah kanan mulanya bergerak cepat, tapi ia segera menghentikan langkahnya dan termangu, begitu melihat seseorang dari sisi sebelah kiri lebih cepat ke depan. Ia lalu kembali ke kursinya. Sekarang hanya tinggal satu orang saja yang sudah berada di depan saya. Gerakannya begitu cepat, tapi tangannya berhenti manakala uang itu disentuhnya. Saya dapat merasakan tarikan uang yang dilakukan dengan keragu-raguan. Semua audiens tertegun.
Saya ulangi pesan saya, “Silahkan ambil, silahkan ambil.” Ia menatap wajah saya, dan saya pun menatapnya dengan wajah lucu. Audiens tertawa melihat keberanian anak muda itu. Saya ulangi lagi kalimat saya, dan Ia pun merampas uang kertas itu dari tangan saya dan kembali ke kursinya.
Semua audiens tertawa terbahak-bahak. Seseorang lalu berteriak, “Kembalikan,kembalikan!” Saya mengatakan, “Tidak usah. Uang itu sudah menjadi miliknya.”

Setidaknya, dengan permainan itu seseorang telah menjadi lebih kaya Rp.100.000. Saya tanya kepada mereka, mengapa hampir semua diam, tak bergerak.Bukankah uang yang Saya sodorkan tadi adalah sebuah kesempatan?
Mereka pun menjawab dengan berbagai alasan:

“Saya pikir Bapak cuma main-main …………”
“Nanti uangnya toh diambil lagi.”
“Malu-maluin aja.”
“Saya tidak mau kelihatan nafsu. Kita harus tetap terlihat cool!”
“Saya enggak yakin bapak benar-benar akan memberikan uang itu …..”
“Pasti ada orang lain yang lebih membutuhkannya….”
“Saya harus tunggu dulu instruksi yang lebih jelas…..”
“Saya takut salah, nanti cuma jadi tertawaan doang………”
“Saya, kan duduk jauh di belakang…” dan seterusnya.

Saya jelaskan bahwa jawaban mereka sama persis dengan tindakan mereka sehari-hari. Hampir setiap saat kita dilewati oleh rangkaian opportunity (kesempatan),tetapi kesempatan itu dibiarkan pergi begitu saja.
Kita tidak menyambarnya, padahal kita ingin agar hidup kita berubah.
Saya jadi ingat dengan ucapan seorang teman yang dirawat di sebuah rumah sakit jiwa di daerah Parung. Ia tampak begitu senang saat saya dan keluarga membesuknya. Sedih melihat seorang sarjana yang punya masa depan baik terkerangkeng dalam jeruji rumah sakit bersama orang-orang tidak waras.
Saya sampai tidak percaya ia berada di situ. Dibandingkan teman-temannya, ia adalah pasien yang paling waras. Ia bisa menilai “gila” nya orang di sana satu persatu dan berbicara waras dengan saya. Cuma, matanya memang tampak agak merah. Waktu saya tanya apakah ia merasa sama dengan mereka, ia pun protes. “Gila aja….ini kan gara-gara saudara-saudara saya tidak mau mengurus saya. Saya ini tidak gila. Mereka itu semua sakit…..”.
Lantas, apa yang kamu maksud ’sakit’?”

“Orang ’sakit’ (gila) itu selalu berorientasi ke masa lalu, sedangkan saya selalu berpikir ke depan. Yang gila itu adalah yang selalu mengharapkan perubahan, sementara melakukan hal yang sama dari hari ke hari…..,” katanya penuh semangat.
” Saya pun mengangguk-angguk.

Pembaca, di dalam bisnis, gagasan, pendidikan, pemerintahan dan sebagainya, Saya kira kita semua menghadapi masalah yang sama. Mungkin benar kata teman saya tadi, kita semua mengharapkan perubahan, tapi kita tak tahu harus mulai dari mana. Akibatnya kita semua hanya melakukan hal yang sama dari hari ke hari,
Jadi omong kosong perubahan akan datang. Perubahan hanya bisa datang kalau orang-orang mau bergerak bukan hanya dengan omongan saja.

Dulu, menjelang Soeharto turun orang-orang sudah gelisah, tapi tak banyak yang berani bergerak. Tetapi sekali bergerak, perubahan seperti menjadi tak terkendali, dan perubahan yang tak terkendali bisa menghancurkan misi perubahan itu sendiri, yaitu perubahan yang menjadikan hidup lebih baik.

Perubahan akan gagal kalau pemimpin-pemimpinnya hanya berwacana saja. Wacana yang kosong akan destruktif. Manajemen tentu berkepentingan terhadap bagaimana menggerakkan orang-orang yang tidak cuma sekedar berfikir, tetapi berinisiatif, bergerak, memulai, dan seterusnya. Get Started. Get into the game. Get into the playing field, Now. Just do it!.
Janganlah mereka dimusuhi, jangan inisiatif mereka dibunuh oleh orang-orang yang bermental birokratik yang bisanya cuma bicara di dalam rapat dan cuma membuat peraturan saja. Makanya tranformasi harus bersifat kultural, tidak cukup sekedar struktural. Ia harus bisa menyentuh manusia, yaitu manusia-manusia yang aktif, berinisiatif dan berani maju. Manusia pemenang adalah manusia yang responsif. Seperti kata Jack Canfield,yang menulis buku
Chicken Soup for the Soul, yang membedakan antara winners dengan losers adalah “Winners take action.they simply get up and do what has to be done.”.

Selamat bergerak!

Apa hubungannya ya?…

April 21, 2006

Tanggal 21 April….Hari Kartini donkkk
Pantesan banyak yang pada pake baju daerah,
Tapi …., semangat Kartini kan semangat modernisasi pemikiran seorang perempuan, kok disimbolisasi dengan ”baju daerah”? Apa hubungannya ya? #$^&*()(+&@#@%%~&{9^$#@#%&()##

Any idea?

Any way, met Hari Kartini yeee buat seluruh kaum perempuan di seluruh pelosok Nusantara.
Maju terus wanita Indonesia …!!!!!!!

Ck ck ck…

Ck ck ck ck……

Hai orang – orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak perbuat ? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa – apa yang tiada kamu kerjakan”. (ash-shaff [61] : 2 – 3)

Inilah mengapa aku tidak berani memperingatkan orang – orang yang suka makan atau minum sambil berdiri (bertentangan ama hadist kan?) aku belum bisa disiplin mengenai hal ini, selalu lupa, tapi kebanyakan ”males” :-D . Contoh kasus : misalnya aku mau minum, tempat dispenser ama kursi terpisah jauh (gak jauh – jauh amat sih, gak sampe itungan kilometer kok), dengan alasan kepraktisan, jadilah minum di depan dispenser, sambil berdiri pula ck ck ck ck…
Contoh lain, pas pengajian rutin di kantor (sudah jadi masalah yang tak terpecahkan kayaknya kekekekek), di bagian perempuan, shaf yang penuh duluan pasti shaf paling belakang, kondisi demikan kan amat menggangu bagi yang mo jalan ke depan, tapi aku gak berani menyuruh teman – temanku untuk maju, karena aku juga bagian dari penganut aliran : ”penuhi dulu shaf belakang” hiks.
Mo contoh lain? Jangan ahh..ntar aib – aibnya kebuka semua, kekekekekek

Change…
Teriak Rhenald Kasali

Mulai dari diri sendiri
Mulai saat ini
Mulai dari yang kecil
Saran bijak dari Aa Gym

So tunggu apalagi ya?

Harmonisasi

Jakarta, 19 April 2006
”dalam kengantukan yang teramat sangat”

Hari ini aku ngantuk banget, setelah semalam begadang dan hanya sempat tidur selama tiga jam, kerja jadi gak optimal, gak bisa terlalu diforsir, hanya kerjaan yang sifatnya teknis aja yang optimal dilakukan. Kenapa sih diciptakan ngantuk? Akan lebih optimal kalo keadaan itu tidak ada kan? Pernyataan ini sempat terbersit dipikiranku, biasa…suatu ketidakberdayaan pastilah berimbas pada sebuah gugatan.

Setiap manusia pastilah memiliki ambang maksimal kekuatan diri, rasa sakit, ngantuk, lelah adalah beberapa contoh ekspresi ketidakberdayaan kita. Diciptakan segala kelemahan ini agar kita tidak menjadi sombong, angkuh dan lupa pada Allah Sang Pencipta.
Bayangkan bila kita tidak memiliki rasa – rasa ini, mungkin kita akan melupakan Allah, kita akan menganggap diri kita ”Perkasa” tanpa bantuan siapapun, kerja 24 jam non stop ok, ketabrak mobil baik – baik saja, ataupun berjalan Jogja – Solo PP ? siapa takut? Semua dilakukan tanpa bantuan siapapun. Mmhhhhh bagaimana kita tidak akan menjadi sombong dan individualis.
Alhamdulillah, seharusnya kata itulah yang terucap dengan diciptakannya segala kelemahan – kelemahan ini. Allah yang Maha Pemurah telah menciptakan suasana penuh ketidakberdayaan untuk membuat kita ingat pada-Nya dan selalu memohon pertolongan serta kekuatan hanya pada-Nya.
Subhanallah Maha Suci Allah yang telah memberikan kita kesempatan untuk selalu mengingat-Nya.

Sebuah keseimbangan yang akan bermuara pada suatu harmonisasi yang teramat indah.

Allahlah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ”Arsy dan menundukkan matahari dan bulan. Masing – masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda – tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan(mu) dengan Tuhanmu. Dan Dialah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung – gunung dan sungai – sungai padanya dan menjadikan padanya semua buah – buahan berpasang – pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda – tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan”. (ar-Ra’d [13] : 2 – 4)

Pintar dan Bodoh

April 4, 2006

Kita bodoh, ketika kita menguasai orang lain,
Kita pintar, ketika kita menguasai diri sendiri.

John Maxwell

I think so…

Perpisahan

March 27, 2006

Hari Minggu kemarin teman kosku resmi pindahan ke kos barunya di Matraman. Meskipun gak jauh dari kos lama, tapi kebersamaan yang kami miliki gak mungkin seperti dulu lagi.
Sedih? Pasti laaah, rasa kehilangan itu pasti ada setelah hampir dua tahun kebersamaan kami.
Rasa yang sama ketika aku harus berpisah dengan teman – teman SD-ku di Banjarmasin, dengan teman – teman SMP dan SMA ku di Jogja, atau teman – teman kuliahku yang telah menorehkan sejuta kenangan indah di Sekip Utara.
Itulah hidup, terus mengalir, kita tidak tahu dengan siapa lagi kita akan berpisah esok.
Perpisahan itu selalu ada dalam hidup, jika kita memiliki sesuatu, kita harus selalu siap untuk berpisah.
Semua telah direncanakan dengan apik oleh Sang Sutradara Kehidupan, Allah S.W.T, dengan siapa kita akan bertemu dan dengan siapa kita akan berpisah.

Selamat menempati kamar baru, Met…
Moga Betah…I’m Gonna Miss You,bakalan kangen dengan celotehan – celotehan dan diskusi – diskusi “gak penting” kita…hiks3

Morning Always Means a New Hope

Apa sih arti pagi? Pertanyaan ini pasti menimbulkan beragam jawaban,
“Pagi itu berarti waktu tidur sudah berakhir”,
“Pagi itu berarti harus mandi”,
“Pagi itu….”,
“Pagi itu…”
Dulu aku gak tertarik sama sekali untuk mem”filosofi”kan pagi, bagiku pagi itu sama dengan siang, senja, ataupun malam. Hanya sebuah fenomena alam akibat rotasi bumi.
Sampai suatu saat, percakapan dengan seorang teman di dunia maya telah mengubah cara pandangku, “How’s morning?” sapa-ku “Great” jawabnya, dia kemudian melanjutkan, “Pagi itu selalu bermakna istimewa, selalu memberikan harapan baru tuk berbuat lebih baik dan lebiiiiih lagi”.
Zzllaaapppp…kata – kata itu dengan cepat masuk ke otakku, sebuah ungkapan yang menggambarkan optimisme dan keinginan untuk menjadi lebih baik di setiap pergantian hari.
Yupppp, ternyata pagi itu datang bukannya tanpa arti, ”Morning Always Means a New Hope

Buat M’Nugh: Thanks for the inspiring chat

Air

March 23, 2006

Tanggal 22 Maret adalah hari air sedunia, sebuah momentum untuk mengingatkan peran penting air bagi kehidupan, teringatkah kita?
Tanpa harus diingatkan, kita semua pasti mengerti dan merasakan arti penting air (terutama pas bulan puasa :-D ). Kesadaran ini idealnya diikuti oleh tindakan menjaga kualitas air agar tetap bersih dan aman, jadi.. air bisa menjalankan fungsi sosialnya secara optimal.

Air Untuk Semua, Semua Untuk Air

Aura Kehidupan

March 13, 2006

Mbaca artikelnya Anis Matta di Serial Cinta-nya Tarbawi Edisi 128 Th. 7/Shafar 1427 H/ 16 Maret 2006 M, Subhanallah..Just check this one …

Aura Kehidupan
Oleh Anis Matta

Jika cinta menyerupai air pada beberapa tabiat dasarnya, maka sifat utama air yang melekat padanya adalah fakta bahwa air adalah sumber kehidupan. Jika cinta adalah gagasan tentang bagaimana menciptakan kehidupan yang lebih baik, dan tindakan utamanya adalah memberi untuk menumbuhkan, maka kekuatan pesona utama, seorang pencinta adalah aura kehidupan yang memancar dari dalam dirinya.
Aura kehidupan. Ya, aura kehidupan. Ia membuat orang – orang disekelilingnya merasakan denyut nadi kehidupan, merasakan hamparan keindahan hidup, merasakan alasan tentang mengapa mereka hidup dan harus melanjutkan hidup, merasakan alasan untuk bertumbuh demi merakit pemaknaan tiada henti terhadap kehidupan. Ia, intinya membuat orang – orang di sekeliling merasa hidup. Sebab ia menebar benih kehidupan di ladang hati mereka.
Aura kehidupan.Ya, aura kehidupan. Sebab ia hidup. Dan hidup itu nyata pada setiap jengkal tubuhnya, pada setiap detak jantungnya, pada setiap hembusan nafasnya, pada setiap langkah kakinya, pada setiap uluran tangannya, pada setiap kedipan matanya, pada setiap kata dan suaranya. Gagasannya seluruhnya adalah tentang kehidupan yang lebih baik. Niatnya seluruhnya adalah penumbuhan yang membuat hidup lebih baik.
Aura kehidupan. Ya, aura kehidupan. Sebab ia memiliki dan menggabung tiga pesona utama para pencinta : pesona raga, pesona jiwa, pesona ruh. Ketiga pesona tersebut terbingkai rapih pada sebuah “akal besar“ yang menerangi kehidupannya dan kehidupan orang – orang disekitarnya.
Maka mendekat – dekatlah padanya, niscaya engkau kan merasakan betapa air kehidupan serasa mengalir pada setiap sudut jiwa dan ragamu. Maka tataplah matanya, niscaya engkau kan merasakan gairah kehidupan yang memberimu semangat baru untuk terus hidup, terus melanjutkan hidup. Maka dengarkanlah kata – katanya, maka engakau kan merasakan betapa engkau layak dan pantas mendapat kehidupan yang berkualitas, kehidupan yang lebih baik. Dan jika tuhan mengijinkan engkau merasakan sentuhannya, niscaya engkau kan merasakan betapa air kehidupan mendidih dalam tubuhnya. Dan jika Tuhan memperkenankanmu hidup berlama - lama dengannya, niscaya engkau kan merasakan betapa perlindungan dan penumbuhannya membuatmu terengkuh dalam rasa aman dan nyaman.
Engkau bahkan tidak pernah begitu yakin tentang pesona apa yang pertama kali menawanmu. Apakah kulit hitam yang tidak dapat menyembunyikan cahaya matanya? atau ketegasan sikap yang tidak dapat merahasiakan kebajikan hatinya? Atau kelembutan bawaan yang tidak sanggup menutup – nutupi keberaniannya? Atau diam panjang yang tidak mampu menghalangi ilmu dan wawasannya? Atau badan kurus yang dijelaskan oleh puasa dan pengendalian dirinya? Atau? Tidak! Semua tampak menyatu dalam dirinya: ruhnya yang halus, jiwanya yang lembut, terbungkus dalam raganya yang kokoh, terangkai dalam perilaku yang terbimbing akal besarnya. Tapi itu semua ada dalam dirinya. Dan ketika Ia keluar, ia hanya memancarkan satu hal: aura kehidupan. Dan itulah yang engakau rasakan dan yang mungkin sekali tidak engkau ketahui asal muasal dak akarnya dalam dirinya. Dia bukan nabi yang tak mungkin salah. Dia hanya sebuah tekad perbaikan berkesinambungan yang tak henti – henti. Dan itulah aura kehidupan: gairah yang tidak pernah selesai.

Potensi

March 9, 2006

Tadi pagi liat berita di TV, hampir semua stasiun menyiarkan demo, gak hanya di Jakarta, di Sukoharjo para mahasiswa yang cuma segelintir itu menentang kenaikan tarif dasar listrik, di Jogjakarta mahasiswa Papua mendesak pemerintah untuk memabatalkan kontrak karya dengan Freeport, ahhhh mahasiswa, idealismemu…..
Jadi inget jaman dulu, ikut – ikutan demo, bukan sebagai orator atau korlap, tapi sebagai seorang “penggembira” yang sempet di kejar gegana gara – gara keasyikan nonton demo di depan Mirota Kampus (kekekekekek demo kok ditonton) sempat gak bisa pulang ke rumah Bude (alasan doank sihh, sebenarnya bisa pulang, tapi sensasi pas kumpul ama temen – temen di saat menegangkan lebih menggoda daripada hanya sekedar pulang dan tidur).
Tahun 1998, baik aktivis, kutu perpustakaan, yang alim – alim yang gaul – gaul,yang IP nya 3 ato nasakom, pokoknya siapa aja yang mengaku mahasiswa, semuanya tumpek bregg di jalan, dukungan masyarakat? Gak diragukan lagi donk…supply makanan dan minuman ada di sepanjang jalan.
Hebat eeuuyy… semua elemen bisa bersatu, kekuatan yang didominasi oleh mahasiswa itu sungguh RUAAARRR BIAASSSAAA.
Beda jauh ama yang terjadi sekarang, mungkin terlalu banyak kepentingan dan terlalu banyak yang ingin disuarakan, atau malah kehidupan haedonisme yang telah membuat idelisme para mahasiswa berubah? Atau ….atau…atau….aaarggggghhhh terlalu banyak hipotesa …..